Buku Novel “Gadis Kretek”


Judul: Gadis Kretek
Penulis: Ratih Kumala
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Maret 2012
ISBN: Â 978-979-22-8141-5
Tebal: 274 hlm
Genre: historical fiction

Soeraja, pemilik pabrik rokok kretek Djagad Soeraja sekarat karena stroke. Setengah sadar ia mengigaukan sebuah nama yang tak pernah terdengar sekali pun di rumahnya: Jeng Yah. Nama itu bukan milik istrinya. Rumah jadi geger. Purwanti, istri Soeraja meradang. Ia melarang siapa pun menanyakan dan membicarakannya. Siapa Jeng Yah? Siapa pun ia, ketiga anaknya tahu wanita itulah yang ingin ditemui ayahnya sebelum ajal. Mustahil bagi Tegar, Lebas, dan Karim menanyakan itu kepada ibunya, mereka pun menempuh segala cara untuk mencari sosok Jeng Yah. Namun, demi menemukan Jeng Yah, mau tak mau mereka pun melakukan napak tilas sejarah kejayaan pabrik kretek milik ayah dan mendiang kakeknya itu dengan melintasi Jogja, Magelang, Kudus hingga Kota M.

Kemudian cerita bergerak flashback menuju tokoh bernama Idroes Moeria, seorang buruh kretek klobot di tahun 40-an. Idroes diceritakan sebagai pemuda yang gigih. Perasan cintanya pada Roemaisa membuatnya mampu berjuang mengubah hidupnya, dan memutuskan untuk membaut pabrik rokok sendiri mulai dari nol. Soejagad, semula adalah teman IM murka sejak ia tahu Idroes Moeria yang akhirnya mampu merebut hati si gadis. Sejak Idroes membeli bahan kretek juragannya, ia pun telah merasa kalah. Kekalahan Soejagad adalah awal dari persaingan bisnis dan intrik yang cukup menggila di waktu-waktu setelahnya. Selama perjalanan bisnis Idroes, Soejagad menjadi pesaing.

Perisiwa demi peristiwa membuat Idroes dan Roemaisa mengalami jatuh bangun. Padahal kretek Merdeka baru saja populer. Namun itu tak membuat Idroes berhenti menciptkan formula baru, dan produk baru. Terlebih setelah lahir Dasiyah, putri pertama mereka. Pabrik rokok tetap mengalami perkembangan, dan Soejagad tetap menjadi saingan. Hingga berlanjut ke generasi kemudian.

Dasiyah yang terbiasa membantu membuat kretek, akhirnya menjadi tangan kanan Idroes. Bahkan mampu membuat formula yang membuat rokok menjadi lebih enak dari yang lainnya. Bahkan Idroes pun menyukainya. Dasiyah tumbuh dengan keterampilan entrepreneur yang baik. Kariernya itulah yang mempertemukan dengan Soeraja, lelaki miskin yang juga pekerja keras seeprti ayahnya di masa muda. Mereka menjalankan bisnis bersama hingga akhirnya saling jatuh cinta dan merencanakan pernikahan. Namun sebuah peritsiwa besar terjadi tatkala ia sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Soeraja. Peristiwa geger G30S PKI membuat bisnis Idroes pun terancam karena warna merah di etiketnya dituduh komunis padahal warna etiket itu sudah ada sejak zaman kemerdekaan. Kondisi politik yang meresahkan membuat Dasiyah dan Soeraja harus terpisah. Saya tak melupakan suasana sedih yang terjadi ketika membaca momen rusuh PKI itu.

Kisah meluncur kembali ke masa sekarang, ketika Lebas, Tegar, dan Karim melakukan perjalanan ke Kota M, dan menemukan keluarga Dasiyah, hingga cerita mengalir pada alur yang akan membuat pembaca tak ingin beranjak hingga menuntaskan bacaan. Dan jarang bagi saya menemukan buku yag endingnya bikin geleng-geleng kepala, kadang geli, kadang mengernyitkan dahi, dan juga terkejut. Terlebih akhirnya terungkap mengapa nama ayahnya dapat bersanding dengan nama besar kakeknya. Kebenaran luka gores di dahi Soeraja, dan rahasia-rahasia lainnya. Oh rupanya

Melihat cover depannya, semula seperti mengingatkan saya tentang kisah Roro Mendut dan Pranacitra. Tapi setelah membaca semuanya, rupanya novel ini lebih njelimet. Diwarnai oleh latar belakang sejarah, tradisi, suasana politik, bahkan kisah-kisah tentang cinta yang sederhana namun dalam maknanya.

Cerita Gadis Kretek dituturkan dengan berbagai Pov. Diawali dengan sudut pandang tokoh Lebas, salah seorang cucu Soejagad, lalu di bab-bab selanjutnya sudut pandang berganti menjadi sudut pandang ketiga berbagai tokoh sehingga pembaca dapat memahami alur cerita. Di samping itu, novel tentang tiga generasi ini menampilkan berbagai karakter dengan latar belakang kehidupan dan cara berpikir yang berdiri sendiri-sendiri.

Selain itu penulis juga menguraikan dengan lancar segala hal tentang kretek hingga cara membuatnya, mulai dari yang dilinting dengan klobot (daun jagung yang dikeringkan) lalu diisi tembakau dicampur cengkih, dengan klobot klembak menyan, dan akhirnya menggunakan papier (semacam kertas pembungkus campuran tembakau). Tak lupa pula proses pembuatan rokok secara manual dari masa ke masa bahkan ditambahi semacam saus yang menjadikan rokok kretek beraroma lebih sedap.

Bahkan dipaparkan pula bahwa rokok sempat dijual di toko obat karena kandungan cengkihnya yang dapat mengobati asma. Hm, berbeda dengan sekarang yang justru cenderung merusak kesehatan.
Dulu, di Kudus ada Pak Haji Jamari. Dia hidup tahun 1980-an. Suatu hari lelaki itu sesak napas, dan mencari cara memasukkan woor (cengkeh) ke paru-parunya. Dia pun merajang cengkeh dan mencampurkannya dengan tembakau rajang yang lalu dilinting dengan klobot. Ketika api menyulut dan menghabiskan batang lintingan itu, terdengar suara kretek-kretek akibat terbakarnya cengkeh rajangan. Itulah asal mula kretek. (hlm. 179)

Membaca Gadis Kretek, membuat saya jadi tahu, bahwa dulu kretek juga bersifat universal dan tidak berhubungan dengan gender. Baik laki-laki maupun perempuan tidak tabu bila merokok di depan umum. Terbukti dengan kisah perjalanan Roemaisa yang sempat menjual kretek selama suaminya diciduk ke Soerabaja, dan Dasiyah yang merupakan bos Kretek Gadis, dengan demikian, tentu saja mereka pun menjajal rokok. Hal itu juga merepresentasi rokok adalah produk universal. (Oh yeah, tentu saja. Deskriminasi gender justru lahir kembali sejak zaman orde baru). Bahkan dikatakan bahwa banyak orang yang menyukai kretek buatan Dasiyah. Terlebih sang ayah. Momen ketika sang ayah begitu menyukai kretek anak gadisnya melengkapi tema novel ini dengan nuansa cinta dan keluarga.

Detail setting ditulisakan Ratih Kumala dengan sangat menarik, yang tampaknya telah mengalami riset yang panjang dan hati-hati. Suasana vintage yang nyaris sempurna membuat saya seperti pergi berpiknik ke zaman lampau dan menyelami sejarah dan tradisi masyarakatnya. Meski bertema kretek (rokok) novel ini juga menceritakan sejarah nasional, sebab konon perkembagan rokok dapat menjadi penanda sejarah nasional, seperti penamaan merk dan iklannya. Di samping itu gaya bahasa yang lugas, ringan, dan cenderung humor menjadi daya tarik tersendiri. Novel ini menjadi tidak membosankan untuk dibaca. Nyatanya ini kali kedua saya baca sejak saya membelinya beberapa bulan yang lalu. Meski saya nggak pro dengan kretek/rokok, tapi ternyata mengasyikan menelusuri sejarah kretek di Indonesia.

Jalinan cerita yang menarik, penuh makna, dan pengetahuan juga twist-twist yang membuat saya penasaran akut hingga terkejut membuat saya merasa beruntung menemukan novel ini. Adapun kekurangan tidak banyak. Barangkali karena buku ini menarik dari awal, kekurangan-kekurangannya jadi terlewat. Namun alangkah baiknya keterangan tentang istilah bahasa Jawa diletakkan sebagai footnote,tidak di belakang bab, supaya memudahkan pembaca yang tidak berbahasa Jawa. Ada pula beberapatypo di sana-sini juga penulisan nama tokoh yang sepertinya tertukar. Di samping itu lebih banyak dibahas sejarah rokok kretek dan bagian Idroes Muria dan Soejagad ketimbang yang lainnya. Gadis Kretek justru mendapat porsi lebih sedikit. Meski demikian, si gadis sepertinya memang pas diposisikan sebagai kunci pembuka rahasia masa lalu mereka. Sehingga secara kesuluruhan novel ini menjadi salah satu favorit saya dan layak diberi bintang 5.

Beberapa cuplikan iklan rokok dalam novel Gadis Kretek yang sempat bikin saya geli :p Selamat membaca 

0 komentar:

Post a Comment