Manfaat Tembakau Yang disembunyikan

Kampanye anti-rokok sejak tahun 1980-an gencar mengkambinghitamkan rokok dan tembakau sebagai satu dari sepuluh penyebab kematian tertinggi. Seruan “merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin” sudah sekian lama tertera di produk berbahan baku tembakau. Bahkan sekarang seruannya lebih lugas, “Rokok Membunuhmu”. Kelompok anti-rokok menyebarkan kampanye bahwa setiap 3 detik satu orang meninggal karena rokok.

Menyanggahnya mudah saja. Berapa banyak rokok atau tembakau dicantumkan sebagai penyebab kematian dalam certificate of death? Dan bagaimana membuktikan suatu kematian disebabkan oleh rokok?

Fakta ilmiah menunjukkan sebaliknya. Beberapa penelitian menunjukkan manfaat medis dari rokok dan tembakau. Tuhan tidak menciptakan sesuatu tanpa punya manfaatnya bukan? Suku Indian telah menggunakan tembakau sebagai ramuan obat selama ratusan tahun. Ini yang jadi dasar bagi para peneliti untuk mengujinya secara saintifik. Hasil uji klinis menemukan bahwa tembakau ternyata memiliki banyak manfaat medis. Termasuk kanker yang kerap dihubungkan dengan kebiasaan merokok.

Berikut manfaat medis tembakau.

Tembakau meluruhkan radikal bebas
Dr. Gretha Zahar—ahli kimia radiasi, dan Prof. Sutiman Bambang Sumitro—guru besar nanobiologi dari Universitas Brawijaya Malang, melalukan kajian ilmiah mengenai tembakau. Keduanya menemukan bahwa partikel dalam asap rokok dapat meluruhkan radikal bebas. Melalui kajian ilmiah berbasis nanosains, nanoteknologi, dan nanobiologi yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik, asap rokok dianalisa dengan instrumen gas chromatography yang menemukan bahwa sesungguhnya senyawa dalam asap rokok tidak semata-mata senyawa radikal bebas melainkan banyak polimer berbentuk kumpulan butiran partikel. Nikotin adalah salah satu bagian kecil dari butiran partikel dari asap rokok.

Selanjutnya, mereka meracik jenis rokok medis yang d.apat menyembuhkan berbagai penyakit. Rokok medis tersebut bernama divine kretek. Divine kretek mengandung formula scavenger yang mampu menangkap dan meluruhkan radikal bebas yang mengendap dalam tubuh. Rokok ini bahkan terbukti dapat menyembuhkan penyakit kanker, kardiovaskuler, autis, stroke, paru-paru, dan menjaga kesehatan tubuh. Selain divine kretek, keduanya menemukan teknik terapi balur yang merupakan terapi tradisional terhadap fungsi sel dengan bahan utama asap tembakau atau rokok.

Tembakau untuk obat anti-kanker
Dr. Arief Budi Witarto, M.Eng. dari Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia telah menghasilkan penelitian mengenai tembakau. Tembakau terbukti dapat menghasilkan protein anti-kanker yang berguna bagi penderita kanker. Tembakau yang digunakan adalah tembakau dari varietas lokal “genjah kenongo”. Tembakau ini dapat menjadi reaktor yang memproduksi protein penting “Growth Colony Stimulating Factor” (GCSF) yang merupakan suatu hormon yang menstimulasi produksi darah dan menstimulasi perbanyakan sel tunas (stemcell) yang bisa dikembangkan untuk memulihkan jaringan fungsi tubuh yang sudah rusak.

Peneltian lainnya menemukan kegunaan medis tembakau untuk menyembuhkan kanker mulut rahim. Kepala Peneliti di Georgetown University, Washington DC, Dr. Kenneth Dretchen telah lama melakukan penelitian terhadap virus HPV. Ia mengembangkan antibodi terhadap HPV dari senyawa yang terkadung dalam tembakau. Untuk beberapa alasan HPV tidak berkembang biak dengan baik di bawah kondisi mikrobiologi normal. Setelah diteliti, ternyata lingkungan yang tepat untuk perkembangan sel kuman itu terdapat pada tumbuhan tembakau.

Penyebab kanker mulut rahim adalah Human Papilloma Virus. Virus ini muncul antara lain akibat perilaku sering berganti-ganti pasangan seks sehingga menimbulkan penyakit kelamin. Selama ini kanker mulut rahim belum ada obatnya penawarnya. Berdasarkan penelitian, tumbuhan tembakau dapat menjadi obat penawar alternatif karena tembakau mampu menjadi wadah perkembangan genetik virus HPV tersebut untuk memproduksi sel kuman yang nantinya dapat menjadi antibodi bagi virus pencetus kanker mulut rahim. Secara genetik tumbuhan tembakau mengandung sumber protein yang dapat menstimulasi antibodi terhadap HPV yang menjadi penyebab terjadinya kanker mulut rahim.

Tembakau untuk obat kencing manis
Profesor Mario Pezzotti dari Universitas Verona dan beberapa peneliti Eropa lainnya pada awal Maret 2009 mempublikasikan sebuah penelitian dalam jurnal BMC Biotechnology yang menyimpulkan kegunaan tembakau untuk memproduksi obat diabetes dan kekebalan tubuh. Proyek yang bertajuk “Pharma-Planta” ini membuat tembakau transgenik yang memproduksi interleukin-10 (IL-10) yang merupakan cytokine anti-radang yang ampuh. Cytokine adalah protein yang merangsang sel-sel kekebalan tubuh agar aktif. Menurut Prof. Pezzotti, penemuan ini akan memungkinkan produksi obat kekebalan tubuh dapat dilakukan dalam skala besar dan biaya rendah dibandingkan dengan cara produksi sebelumnya.

Tembakau untuk mengobati AIDS
Salah satu penelitian yang diterbitkan oleh Proceedings of the National Academy of Sciences, pada akhir Maret 2009 menyatakan bahwa tembakau bisa menghasilkan protein obat human immunodeficiency virus (HIV) penyebab AIDS, yang disebut griffithsin. HIV adalah virus yang menginfeksi sel sistem kekebalan tubuh manusia. Virus dalam tembakau dapat menghasilkan protein yang bermanfaat untuk melawan virus penyebab HIV. Dengan bantuan tembakau, obat HIV itu dapat diproduksi dalam jumlah besar dan murah.

Virus mosaik tembakau (TMV) yang biasanya menginfeksi tembakau pun dijadikan alat untuk memproduksi obat HIV itu. TMV berbentuk batang, dengan lebar 18 nanometer dan panjang 200–300 nanometer. Pada tubuhnya diinjeksikan gen algae merah yang menghasilkan griffithsin. Virus TMV yang telah mengandung DNA algae merah akan menghasilkan griffithsin.

Agar hasilnya besar, generasi TMV penghasil obat itu dicampur dengan air dan disemprotkan pada Nicotiana benthamiana, sepupu tanaman tembakau komersial yang sangat rentan terhadap TMV. Setelah beberapa hari terinfeksi, daun mulai layu. Berarti virus telah menyebar ke seluruh daun. Kemudian para ilmuwan tanaman memanen, mengekstraksi, dan mengambil griffithsin murni.
Tembakau membunuh kuman penyebab tuberculosis (TBC)

Saleh Naser, seorang profesor mikrobiologi dan biologi molekuler yang telah berkecimpung lama dalam penelitian tembakau dan nikotin dari University of Central Florida (UCF), mengatakan bahwa nikotin menunjukkan hasil yang lebih baik dari senyawa lain dalam hal menghentikan tuberculosis (TBC). Bukan tidak mungkin dalam penelitian lanjutan, seseorang yang menderita TBC akan menggunakan nikotin dalam pembuluh darah atau menelan kapsul nikotin untuk mencegah tuberculosis di masa depan.

Dalam banyak kasus TBC, pengobatan konvensional dilakukan dengan antibiotik selama sekurangnya 6 bulan. Namun bila seseorang gagal untuk menyelesaikan pengobatan, mereka kemungkinan besar akan terkena komplikasi yang berbahaya dari penyakit TBC ini. Lamanya waktu pengobatan ini menjadi salah satu kendala utama dalam perawatan penderita TBC. Penderita seringkali enggan untuk melakukan perawatan sehingga penyakit semakin akut.

Merokok mengurangi risiko parkinson
Penelitian yang dilakukan oleh Evan L. Thacker dari Harvard School of Public Health menunjukkan hubungan antara kebiasaan merokok dan berkurangnya risiko penyakit parkinson. Kebiasaan merokok dapat meningkatkan kekebalan terhadap risiko penyakit parkinson.

Thacker melakukan analisa data dari penelitian rekam medis terhadap 79.977 wanita dan 63.348 pria. Penelitian dengan judul proyek Cancer Prevention Study II Nutrition Cohort memakan waktu sekitar 9 tahun. Hasilnya, seseorang yang pernah merokok memiliki risiko terkena parkinson 22% lebih rendah, bahkan yang masih aktif merokok memiliki risiko terkena parkinson 73% lebih rendah. Menurut Thacker rendahnya risiko parkinson bagi para perokok karena kandungan kimia neuroprotective yang terkandung dalam daun tembakau. Temuan ini menyangkal pernyataan bahwa orang yang merokok cenderung memiliki parkinson.

Merokok Mengurangi Risiko Alzheimer
Sementara itu Dr. James Le Fanu mempublikasikan penelitian tentang kebiasaan merokok dan hubungannya efek perlindungan terhadap penyakit alzheimer. Dr. Le Fanu menemukan, perokok memiliki 50% penurunan risiko terkena alzheimer. Lebih lanjut, semakin banyak seseorang merokok semakin besar perlindungan yang ia dapatkan.

Nikotin dalam tembakau melindungi perokok dari alzheimer karena nikotin meningkatkan jumlah reseptor “nicotinic” dalam otak, yang pada gilirannya mempengaruhi produksi dan pelepasan neurotransmitter acetylcholine. Pada penderita alzheimer diketahui terjadinya penurunan jumlah reseptor “nicotinic” yang kemudian mengurangi tingkat acetylcholine, yang diperlukan untuk memori dan fungsi otak lainnya.

Merokok mengurangi risiko terkena kanker payudara
Sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh National Cancer Institute pada tanggal 20 Mei 1998 menyatakan bahwa risiko seorang perokok dengan konsumsi rokok lebih dari 4 pak per tahun ternyata mengalami penurunan signifikan sebesar 54% dalam insiden kanker payudara bila dibandingkan dengan yang tidak pernah merokok.

Salah satu hal yang mendorong munculnya penyakit kanker payudara adalah mutasi gen BRCA 1 dan BRCA 2 yang dipengaruhi oleh faktor makanan, kelebihan berat badan, dan konsumsi alkohol. Salah satu kekuatan dari penelitian ini adalah bahwa penurunan insiden sampai 50%. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan kemungkinan penurunan kanker payudara yang disebabkan oleh mutasi gen BRCA 1 dan BRCA 2.

Bahkan National Cancer Institute, sebuah lembaga yang terkenal anti-rokok sendiri melalui risetnya menemukan manfaat tembakau dalam mencegah kanker kulit yang langka yang terjadi di wilayah Mediterania. [F]

Sumber: http://membunuhindonesia.net/2016/01/manfaat-tembakau-yang-tidak-pernah-disebut-dalam-kampanye-hitam-anti-rokok/