Raksasa Asing Meraup Untung Rokok di Indonesia

Kretek adalah komoditas yang sangat menguntungkan. Industri pengolahan tembakau yang mandiri dan kompetitif, menggunakan bahan baku lokal, dengan volume produksi yang terus meningkat, perluasan terus-menerus pasar domestik yang besar dan sebagian diekspor.

Perusahaan-perusahaan rokok kretek yang tumbuh, mekar dan membesar di Jawa menjadi incaran para investor besar yang berkepentingan melakukan investasi dalam industri rokok kretek, tidak terkecuali raksasa dari AS dan Korea Selatan.
Motif setiap pengusaha adalah mengeruk untung. Maka, raksasa asing adalah yang paling berkepentingan menjajal kekuatannya untuk meraup untung di Indonesia. Dimulai dengan PT Philip Morris Indonesia yang memproduksi rokok Marlboro, disusul oleh British American Tobacco (BAT) Indonesia dengan produk andalannya Dunhill, dan belakangan raksasa Korea Selatan KT & G pun mengikutinya.

Tiga perusahaan rokok – PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk, PT Bentoel Internasional Investama Tbk, dan PT Trisakti Purwosari Makmur – ditelan oleh tiga perusahaan asing tersebut.

Philip Morris International Inc, perusahaan rokok terbesar dunia yang memiliki banyak anak perusahaan – lewat anak perusahaannya di Indonesia, PT Philip Morris Indonesia – sudah mengambil alih 40 persen saham PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk dengan harga persaham Rp 10.600 pada 12 Maret 2005.
Setelah proses akuisisi saham selesai, Philip Morris juga melakukan penawaran tender untuk memiliki seluruh sisa saham dengan harga yang sama per saham, yang diselesaikan dalam tempo sekitar 90 hari. Transaksi pembelian saham ini mencapai 5,2 miliar dollar AS atau Rp 48 triliun yang sudah mencakup utang bersih Rp 1,5 triliun.

Empat tahun kemudian, giliran BAT yang secara resmi mengambil alih 85% saham pengendali di perusahaan rokok terbesar keempat di Indonesia, PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA), dari PT Rajawali Corpora dan para pemegang saham lainnya dengan harga 494 juta dollar AS. Harga ini setara dengan Rp 873 per saham, premi sebesar 20 persen di atas harga penutupan Bentoel sebesar Rp 730 per saham pada 15 Juni 2009.

Dengan asumsi bahwa semua saham dapat dibeli dalam proses penawaran tender, maka transaksi secara keseluruhan, mencakup 100 persen saham Bentoel, dengan perkiraan harga keseluruhan sebesar 580 juta dollar AS.

Pergerakan perusahaan rokok asing di lantai bursa saham juga ditunjukkan oleh perusahaan Korea Selatan, KT & G. Perusahaan ini membeli saham 60 persen, dengan nilai 140 miliar won atau setara Rp 1,12 triliun dari perusahaan tembakau terbesar keenam di Indonesia, PT Trisakti Purwosari Makmur (TPM), pada 21 Juni 2011. TPM sudah memproduksi sampai 3 miliar batang pada 2010. Dengan pembelian ini KT & G tidak hanya mengincar pasar domestik, namun juga melemparkan produknya ke pasar Asia Tenggara.

Akuisisi atau mengambilalihan saham mayoritas tiga perusahaan rokok kretek itu membangkitkan sejumlah komentar. Ketika PT Philip Morris Indonesia menguasai saham PT HM Sampoerna tbk, maka PT BAT Indonesia – yang memproduksi Dunhill, Lucky Strike, Ardath, Commfil dan Kansas, serta menguasai pangsa pasar rokok putih sebesar 30 persen yang sekaligus rivalnya dalam memperebutkan setiap jengkal pasar rokok dunia dan Indonesia – memandang akuisisi ini bukan sebagai ancaman dan tidak akan mengubah peta bisnis. Akuisisi ini hanya mengganti kepemilikan.

HM Sampoerna, Bentoel Internasional, dan TPM lebih tergiur menerima pelepasan ketimbang mempertahankan atas apa yang sudah mereka bangun dan kuasai.

1 komentar:

Post a Comment